Marah: risiko penyakit jantung
Posted by larashati on April 3, 2007
Manusia yang bertemperamen buruk dan mengalami depresi mempunyai risiko penyakit jantung, diabetes, atau hipertensi yang lebih tinggi. Namun, bila perilaku tersebut dapat mereka perbaiki, maka risiko untuk terkena berbagai penyakit tersebut pun dapat dikurangi.
Orang yang bertemperamen kasar, mengalami depresi, dan sering marah memandang dunia di sekelilingnya dengan cara yang berbeda, bahkan terkadang mereka melihatnya bagaikan dirinya versus dunia. Kehidupan seperti itu sering mengakibatkan stres yang lebih berat dan kemungkinan terjadinya perubahan fungsi tubuh yang dapat menyebabkan terjadinya penyakit. coba pikirkan?
solusi: jangan mudah marah



anas said
Solusi satu lagi nih, ingat selalu sabda nabi “Jangan marah ” 3x lho. Pernah baca buku nih biar [misal kita punya kebisaan marah ] marahnya ilang minim satu hari kita punya targen ‘Hari Ini Aku tak boleh Marah’ gitu seterusnya, pasti deh marahnya akan ilang.
Eh mas kuliahnya ngambil apa ? Biologikah? kok isi blognya gini semua, tapi bagus kok.
——”—”—————”—”————————”———”——————
#yup…ngambil biologi….thx
nasir said
Salam Hormat
saya tertarik dengan artikel yang di utarakan dan saya sangat setuju
mungkin ada sedikit masukan,
kebetulan kami bergerak di klinik Psikoterapi,di klinik tersebut memang khusus mempelajari keterkaitan antara prilaku sehari – hari dengan perubahan suatu jaringan/ organ tubuh,dengan kata lain seseorang dapat menjadi sakit atau sehat dan itu dikarenakan sikap dan prilakunya sehari – hari.
untuk mengetahui lebih lanjut hubungi klinikpsikoterapi.blogspot.com
atau dr.Nasir:081326252000
maaf dan makasih
cici said
salam kenal..
saya tertarik sekali dengan artikel anda. cukup bagus untuk memberi informasi pada orang lain selain itu juga dapat bermanfaat
lely said
ga juga tuch.
orang selalu bilang : kalau marah akan beresiko sakit jantung.
aq merasa mama ku adalah orang yang paling baek sedunia…
bahkan dibilang seorang muslimah yang berjiwa sabar,
boleh di hitung berapa kali dia marah selama aku hidup
aku berani bilang begitu karena udah 25 tahun aku bersamanya.
tapi….
mamaku kena penyakit jantung udah cukup lama.
sekarang dia di opname di rs. jantung harapan kita-jkt.
tunggu jadwal untuk operasi dalam waktu dekat ini.
so, aku selalu balik mempertanyakan hal ini, marah berisiko kena penyakit jantung???
karena aku merasakan hal ini dalam hidupku bersama mama…
—————–***——————-***—————
Marah mempunyai resiko penyakit jantung, akan tetapi tidak semua penyakit jantung disebabkan oleh sifat pemarah ini (sifat pemarah hanya mempunyai resiko terkena penyakit jantung).
Kadar Kolesterol yang tinggi di dalam darah (karena asupan yang tinggi atau karena pola hidup) pada jangka panjang menimbulkan ateroslerosis (flek pd pembuluh darah). Bila ateroslerosis terjadi pada otot jantung, misalnya otot coronaria maka timbul penyakit jantung koroner. Prisipnya bahwa ateroslerosis membuat penebalan pembuluh darah sehingga tekanan darah menjadi tinggi.
Pola hidup yang sehat sesuai tuntunan Rosullah adalah solusinya.
“bisa jadi apa yang menurut kita baik adalah belum tentu baik menurut Alloh.Sesungguhnya Alloh maha tau sedangkan kita tidak mengetahui”
Ahmad Rifai said
Marah harus dikontrol. karena marah bisa membahayakan jantung.
tiara said
saya mau tanya….
saya suka mendam amarah.
bila saya mengalami suatu emosi yang berlebih jantung saya trasa cepat berdetak dan sesak nafas…
karna saya tidak bisa mengukap kan emosi saya yang tidak terkontol…
apakah itu penyebab atau awal mula sakit jantung…
syahril said
bagaimana mekanisme penyakit jantung menyerang pada orang yang pemarah
ijal said
mau tanya nia
bagaimana cara kita agar jadi guru yang gak pemarah
Arvika Rastra said
kalau ada masalah tentang penyakit JANTUNG dan atau KARDIOVASKULER
maka,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
konsumsilah Tri-Shield
Herbalifeline
Mega Garlic Plus
semua ini produk dari HERBALIFE
mau,,,,,? mau,,,,,? mau,,,,,?
hubungi di r4denb4gus_vika@yahoo.com
Terima Kasih,,,,,,,,,,,,,,,
yanti said
marah merupakan luapan dari dasar hati yang terkadang kita tidak tahu kalau itu bakalkeluar, tapi ketimbang diem alias ga diungkapkan malah lebih parah lagi jadinya, ya…intinya adalah bagaimana kita untuk bisa memfilter sikap marah kita itu
sarah said
salam kenal ………
kebetulan saya adalah pengidap depresi setelah divonis sejak bulan April tahun ini….gejalanya adalah tidak nafsu makan, sulit tidur selama 2 bulan,gelisah, meronta-ronta,hingga akhirnya orang tua saya membawa saya ke seorang psikiater. Sejak itulah saya divonis depresi karena ketidakstabilan emosional dalam diri saya. Saya memang terbilang orang yang lemah. Konon, ibu saya sejak mengandung dan merawat saya waktu kecil juga sedang mengalami sakit (entah depresi atau bukan).
Sampai saat ini saya masih minum obat anti depresan, vitamin metabolisme darah di otak serta obat penghilang cemas.
Ada yang ingin saya tanyakan, apa yang harus saya lakukan selain, disamping minum obat yang teratur untuk mempercepat proses penyembuhan emosi saya agar kembali seperti diri saya yang dulu??? sekarang saya masih mengalami rasa tidak percaya diri untuk bersosialisasi dengan yang lain.
terimakasih.
sarah said
salam kenal ………
kebetulan saya adalah pengidap depresi setelah divonis sejak bulan April tahun ini….gejalanya adalah tidak nafsu makan, sulit tidur selama 2 bulan,gelisah, meronta-ronta,hingga akhirnya orang tua saya membawa saya ke seorang psikiater. Sejak itulah saya divonis depresi karena ketidakstabilan emosional dalam diri saya. Saya memang terbilang orang yang lemah. Konon, ibu saya sejak mengandung dan merawat saya waktu kecil juga sedang mengalami sakit (entah depresi atau bukan).
Sampai saat ini saya masih minum obat anti depresan, vitamin metabolisme darah di otak serta obat penghilang cemas.
Ada yang ingin saya tanyakan, apa yang harus saya lakukan selain, disamping minum obat yang teratur untuk mempercepat proses penyembuhan emosi saya agar kembali seperti diri saya yang dulu??? sekarang saya masih mengalami rasa tidak percaya diri untuk bersosialisasi dengan yang lain.
Dimohon sekali jawabannya ya via email saya!
terimakasih.